Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang sistem pelindian emas dalam tangki (VAT Leaching System). Di mana, Sejak akhir abad ke-19, sianidasi telah menjadi metode utama dan paling efektif untuk mengekstrak emas dari bijihnya. Metode ini populer karena sianida adalah pelarut yang sangat efisien dan biayanya relatif rendah. Sianida mampu melarutkan emas dengan sangat baik, menjadikannya pilihan yang ideal untuk industri pertambangan. Meskipun toksisitas sianida menjadi perhatian utama, zat ini dapat digunakan dengan aman. Penerapan prosedur keselamatan yang ketat dan tepat sangat penting untuk meminimalkan risiko bagi kesehatan manusia dan kerusakan lingkungan. Dalam proses sianidasi, bijih emas dikelompokkan menjadi dua jenis berdasarkan responsnya terhadap pelindian sianida (Frank Hiji, Maganga and Pastory Maganga, 2015):
- Bijih free milling: Bijih ini mudah diproses dan dapat menghasilkan tingkat pemulihan emas yang tinggi, seringkali lebih dari 90%.
- Bijih refraktori: Bijih jenis ini lebih sulit diproses dan biasanya hanya menghasilkan tingkat ekstraksi emas yang rendah (sekitar 50% hingga 80%) menggunakan metode sianidasi standar.
Beberapa metode pelindian emas dengan menggunakan sistem sianidasi di antaranya adalah Carbon-in-Leach (CIL), Carbon-in-Pulp (CIP), Heap Leach, dan VAT Leach. Beberapa alasan pemilihan metode sianidasi yang tepat adalah:
- Metode CIL dan CIP umumnya digunakan untuk bijih dengan kadar emas yang lebih tinggi karena biayanya yang lebih mahal.
- Metode Heap Leach sering digunakan untuk bijih dengan kandungan emas rendah karena lebih ekonomis.
- Metode VAT Leach digunakan untuk proyek-proyek pertambangan skala kecil atau sebagai uji coba (pilot test) untuk memverifikasi efektivitas proses pelindian pada bijih tertentu. Ini membantu pemilik proyek menghemat investasi awal yang besar.
Dalam skala laboratorium, VAT Leach lebih cocok digunakan. VAT Leach merupakan metode proyek skala kecil atau sebagai uji coba, di mana bijih ditambang dan hancurkan menjadi butiran-butiran kecil. Mekanisme prosesnya:
- Proses penghancuran ini bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan bijih, sehingga reaksi dengan larutan kimia bisa berjalan lebih efektif. Bijih yang sudah dihancurkan kemudian dimasukkan ke dalam tangki yang dikenal sebagai VAT.
- Tangki ini biasanya dilengkapi dengan saringan atau alas berpori di bagian bawahnya. Larutan kimia, biasanya larutan natrium sianida (NaCN), dipompakan ke dalam tangki hingga merendam seluruh bijih. Larutan ini berfungsi sebagai agen pelarut yang akan bereaksi dengan logam mulia.
- Setelah terendam, larutan sianida akan melarutkan emas dan perak yang terkandung di dalam bijih. Reaksi kimia ini mengubah logam padat menjadi senyawa kompleks yang larut dalam air.
- Larutan yang sudah mengandung kompleks emas dan perak (disebut pregnant solution) akan mengalir ke bawah melalui saringan dan dikumpulkan di tangki penampung. Bijih yang sudah kosong dari logam berharga tetap berada di dalam VAT.
- Larutan pregnant solution kemudian diolah lebih lanjut untuk memulihkan kembali emas dan perak. Proses ini bisa menggunakan beberapa metode, seperti absorpsi karbon (menempelkan emas ke karbon aktif) atau presipitasi seng (menambahkan serbuk seng untuk mengendapkan emas/Meryl Crow System). Logam yang sudah dipisahkan akan diolah lagi hingga menjadi bullion emas.
Secara umum, proses VAT Leach lebih cocok untuk bijih dengan kadar logam mulia yang lebih tinggi dibandingkan dengan Heap Leach, metode lain yang juga menggunakan sianida namun dengan skala yang lebih besar dan bijih yang tidak terlalu halus seperti CIL/CIP.
DAFTAR PUSTAKA
Frank Hiji, M., Maganga, S. and Pastory Maganga, S. (2015) ‘Application of Response Surface Methodology for Optimization of Vat Leaching Parameters in Small Scale Mines: Case Study of Tanzania’, American Journal of Engineering, 2(2), pp. 21–25. Available at: http://www.openscienceonline.com/journal/ajets.