RHODIUM: Aplikasi, Manfaat Dan Perannya Dalam Bidang Teknologi

Rhodium merupakan salah satu logam transisi yang tergolong dalam platinum group metals (PGMs), dengan sifat khas berupa warna putih keperakan, keras, serta memiliki ketahanan korosi yang sangat tinggi. Kelangkaannya di alam membuat rhodium bernilai ekonomi yang sangat tinggi, bahkan dianggap sebagai logam mulia termahal di dunia. Dengan kelimpahan di kerak bumi hanya sekitar 0,0002 ppm, keberadaan rhodium sangat terbatas, sehingga penggunaannya difokuskan pada bidang-bidang dengan nilai tambah tinggi dan aplikasi yang memerlukan sifat unik dari logam ini (Detik Edu, 2023). Karena karakteristik kimia dan fisiknya, rhodium telah menjadi logam vital dalam berbagai sektor industri, terutama yang berkaitan dengan katalisis, perhiasan, serta teknologi optik.

Salah satu manfaat paling signifikan dari rhodium adalah perannya dalam bidang katalisis industri. Sekitar 80% konsumsi rhodium global digunakan pada konverter katalitik kendaraan bermotor, khususnya mesin berbahan bakar bensin. Peran rhodium di sini sangat penting karena kemampuannya mengurangi emisi nitrogen oksida (NOₓ), salah satu polutan udara utama yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia (MGS Refining, 2023). Keunggulan ini menjadikan rhodium tidak tergantikan pada sistem three-way catalytic converter. Selain itu, rhodium juga digunakan dalam industri kimia sebagai katalis pada proses karbonilasi metanol untuk menghasilkan asam asetat (Monsanto process), serta hidroformilasi alkena untuk memproduksi aldehida. Dengan demikian, rhodium memiliki kontribusi besar terhadap keberlanjutan industri sekaligus pengendalian pencemaran lingkungan.

Setelah membahas peranan katalitiknya, manfaat rhodium juga menonjol pada bidang estetika dan perhiasan. Pelapisan rhodium (rhodium plating) banyak digunakan untuk meningkatkan tampilan logam mulia seperti emas putih, platinum, maupun perak. Lapisan ini memberikan kilau putih yang cemerlang, tahan noda, serta meningkatkan reflektivitas sehingga batu permata, khususnya berlian, tampak lebih berkilau (AG Metals, 2022; SinteredFilter, 2025). Keunggulan lain adalah sifat kerasnya, dengan nilai Mohs sekitar 6,0, sehingga lapisan rhodium lebih tahan gores dibanding emas atau perak. Rhodium juga bersifat hipoalergenik, sehingga memberikan perlindungan terhadap kulit sensitif dari potensi iritasi akibat logam lain seperti nikel (Jennifer Fisher, 2025). Oleh karena itu, rhodium plating tidak hanya memperindah perhiasan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan daya pakai.

Rhodium Plated Jewellery (brilliantearth.com)

Selain pada perhiasan, rhodium memiliki manfaat teknis yang tidak kalah penting. Logam ini digunakan sebagai bahan paduan untuk meningkatkan kekuatan serta ketahanan korosi pada platinum dan paladium, terutama untuk aplikasi industri bertekanan tinggi dan bersuhu tinggi. Beberapa contoh penerapannya adalah pada kumparan tanur, busing dalam produksi serat kaca, elektroda busi pesawat, hingga peralatan laboratorium. Dalam bidang optik, rhodium digunakan untuk melapisi instrumen sehingga lebih tahan lama, serta pada filter sinar-X untuk mammografi karena kemampuannya menyaring panjang gelombang tertentu. Artinya, pemanfaatan rhodium melampaui aspek dekoratif dan juga berkontribusi pada kemajuan teknologi industri serta kesehatan.

Meskipun begitu, pemanfaatan rhodium tidak lepas dari berbagai keterbatasan. Harga rhodium yang sangat tinggi dan fluktuatif seringkali menjadi kendala utama, sehingga penggunaannya terbatas pada produk premium. Selain itu, kelangkaan bahan baku di alam menimbulkan tantangan dalam ketersediaan pasokan jangka panjang. Pada bidang perhiasan, pelapisan rhodium juga memiliki keterbatasan karena lapisan tersebut dapat aus dalam jangka waktu tertentu, biasanya 12–24 bulan, sehingga memerlukan proses re-plating secara berkala. Dengan demikian, meskipun rhodium memiliki manfaat yang besar, tantangan terkait harga dan ketersediaannya tetap menjadi faktor pembatas.

Selain pemanfaatannya di berbagai bidang industri dan medis, rhodium juga menarik untuk dikaji dari sisi proses ekstraksinya, mengingat kelangkaan logam ini di alam dan sulitnya pemisahan dari platinum group metals lainnya. Salah satu metode yang banyak diteliti adalah ekstraksi pelarut, khususnya menggunakan senyawa amina sebagai agen ekstraktan.

Penelitian oleh Levitin dan Schmuckler (2003) mengkaji ekstraksi kompleks klorida rhodium (RhClₓ) dari larutan HCl menggunakan trioctylamine (TOA) maupun Aliquat 336 yang diencerkan dalam toluena. Hasil perhitungan distribusi spesies menunjukkan bahwa pada kondisi 1 M HCl, spesies dominan yang terbentuk adalah [Rh(H₂O)₂Cl₅]²⁻. Spesies ini dapat diekstrak ke fase organik, meskipun prosesnya cenderung parsial, dan secara bertahap berubah menjadi dimer Rh₂Cl₉²⁻ yang lebih stabil dan bersifat hidrofobik.

Proses stripping dilakukan kembali dengan HCl pekat, namun penelitian ini menegaskan bahwa pemisahan Rh dari Pd dan Pt tidak mudah dicapai hanya dengan ekstraksi pelarut, karena ketiga logam tersebut sama-sama membentuk kompleks klorida yang dapat terekstraksi oleh amina. Untuk mengatasi keterbatasan ini, penulis mengusulkan metode tambahan berupa kromatografi gel permeasi (gel permeation chromatography, GPC). Dengan menggunakan gel seperti Sephadex G-10, pemisahan ketiga logam dapat dilakukan berdasarkan interaksi spesifik dengan matriks gel. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rhodium dapat dipisahkan lebih awal, diikuti oleh palladium, dan terakhir platinum, dengan resolusi puncak yang tajam. Penelitian ini menegaskan bahwa proses ekstraksi rhodium dari larutan berair masih menghadapi tantangan teknis, terutama dalam pemisahan dari logam sekelompoknya. Namun, kombinasi metode ekstraksi pelarut dan kromatografi gel menawarkan pendekatan menjanjikan untuk memperoleh rhodium dengan kemurnian tinggi, yang pada akhirnya mendukung pemanfaatannya dalam industri katalisis, perhiasan, maupun aplikasi teknologi lainnya.

Picture of Global Mineralium Corporindo

Global Mineralium Corporindo