Efektivitas Resin Penukar Ion vs. Karbon Aktif dalam Pemulihan Emas dari Bijih Kaya Tembaga: Tinjauan Teknis dan Ekonomis

Pemulihan emas dari larutan hasil pelindian sianida (Pregnant Leach Solution atau PLS) merupakan tahapan kritis dalam metalurgi ekstraktif. Secara konvensional, karbon aktif telah menjadi standar industri global dalam proses seperti Carbon-in-Leach (CIL) dan Carbon-in-Pulp (CIP) karena ketersediaannya dan kapasitas pemuatannya yang tinggi. Namun, industri pertambangan kini semakin sering berhadapan dengan bijih emas yang bersifat refractory dan kaya akan tembaga (copper-rich gold ores). Kehadiran tembaga dalam larutan sianida menjadi tantangan serius karena tembaga berkompetisi secara agresif dengan emas untuk menempati situs aktif pada adsorben. Hal ini tidak hanya menurunkan pemulihan emas tetapi juga meningkatkan konsumsi sianida dan biaya operasional. Artikel ini membahas studi perbandingan kinerja antara karbon aktif konvensional dengan teknologi alternatif resin penukar ion (basa kuat dan basa lemah), serta menganalisis implikasi operasionalnya dalam skala industri.

Kinerja Adsorpsi: Data Empiris Laboratorium

Berdasarkan studi kasus pada PLS nyata yang mengandung 26.1~mg/L emas (Au) dan 62.4~mg/L tembaga (Cu), pengujian dilakukan terhadap tiga adsorben: Karbon Aktif (NORIT GAC 1240), Resin Basa Kuat (Purogold A194), dan Resin Basa Lemah (Purogold S992).

Hasil pengujian selama 4 jam menunjukkan dinamika yang menarik:

  • Kapasitas vs. Selektivitas: Karbon aktif mencatat kapasitas pemuatan emas tertinggi sebesar 25 kg/ton, mengungguli kedua jenis resin. Namun, karbon aktif juga menyerap tembaga dalam jumlah signifikan (17 kg/ton). Hal ini mengonfirmasi sifat karbon aktif sebagai adsorben “serbaguna” yang bekerja melalui mekanisme adsorpsi fisik pada pori-porinya yang luas, sehingga sulit membedakan secara spesifik antara kompleks emas dan tembaga.
  • Keunggulan Resin Basa Lemah: Sebaliknya, resin basa lemah Purogold S992 menunjukkan selektivitas yang luar biasa. Meskipun kapasitas pemuatan emasnya (23 kg/ton) sedikit di bawah karbon, ia mampu menekan penyerapan tembaga hingga hanya 5~kg/ton.
  • Nilai Kuantitatif: Dalam hal rasio distribusi, Purogold S992 mencapai nilai selektivitas tertinggi 89), jauh melampaui karbon aktif (59) dan resin basa kuat Purogold A194 (14).

Analisis Mekanisme: Mengapa Resin Lebih Selektif?

Perbedaan kinerja ini dapat dijelaskan melalui mekanisme kimiawi. Karbon aktif bekerja terutama melalui gaya Van der Waals pada permukaan luasnya, menyerap berbagai kompleks logam sianida tanpa diskriminasi yang ketat. Sebaliknya, resin basa lemah seperti Purogold S992 memiliki gugus fungsi amina yang, pada pH operasi tertentu (biasanya pH 9-10), menjadi terprotonasi.

Secara kimiawi, resin ini lebih menyukai anion bermuatan tunggal (monovalen) seperti aurosianida (Au(CN)2). Di sisi lain, kompleks tembaga-sianida yang dominan dalam larutan seringkali bermuatan ganda atau lebih (Cu(CN)2-3 atau Cu(CN)3-4), sehingga cenderung “ditolak” oleh situs aktif resin karena perbedaan densitas muatan. Inilah alasan ilmiah mengapa resin S992 mampu memisahkan emas dari “gangguan” tembaga dengan sangat efektif dibandingkan karbon.

Perspektif Industri: Efisiensi Energi dan Operasional

Selain data laboratorium, penting untuk membandingkan aspek operasional jangka panjang yang sering menjadi penentu dalam kelayakan ekonomi proyek tambang:

  1. Regenerasi dan Konsumsi Energi: Kelemahan utama karbon aktif adalah proses elusi dan regenerasinya. Karbon yang telah jenuh harus dipanaskan dalam tanur (kiln) pada suhu tinggi (600-700°C) untuk mengaktifkan kembali pori-porinya. Proses termal ini sangat boros energi dan meningkatkan biaya operasional (OPEX). Sebaliknya, resin sintetis dapat dielusi dan diregenerasi sepenuhnya menggunakan larutan kimia pada suhu rendah (<100°C), menghilangkan kebutuhan akan tanur yang mahal dan rumit.
  2. Ketahanan Terhadap Kontaminan: Resin polimerik umumnya lebih tahan terhadap fouling atau penyumbatan oleh material organik (seperti sisa oli atau zat organik alami di air) dibandingkan karbon aktif yang pori-pori mikronya mudah tersumbat.
  3. Implementasi Nyata: Studi literatur eksternal menunjukkan bahwa tambang-tambang dengan bijih kompleks di dunia, seperti Tambang Penjom (Malaysia) atau Gedabek (Azerbaijan), telah beralih ke teknologi resin. Langkah ini diambil karena resin terbukti lebih andal menangani bijih yang mengandung carbonaceous matter (“preg-robbing“) dan kadar tembaga tinggi, di mana karbon aktif sering kali gagal memberikan hasil ekonomis.

Studi ini menegaskan bahwa meskipun karbon aktif menawarkan kapasitas pemuatan emas maksimum secara kuantitas (25 kg/ton), ia memiliki keterbatasan serius dalam hal selektivitas pada bijih kaya tembaga. Resin Basa Lemah (Purogold S992) muncul sebagai solusi teknis yang lebih superior untuk kasus ini, dengan selektivitas (89) yang secara drastis mengurangi ko-adsorpsi tembaga. Dalam skala industri, penggunaan resin menawarkan potensi penghematan biaya hilir yang signifikan yaitu mengurangi beban pemisahan tembaga di tahap electrowinning, menghilangkan biaya energi tinggi untuk regenerasi termal, dan memberikan ketahanan operasional yang lebih baik. Oleh karena itu, untuk pengolahan bijih emas kompleks yang kaya tembaga, transisi dari karbon aktif ke resin penukar ion bukan hanya opsi alternatif, melainkan strategi optimasi yang esensial.

REFERENSI :

Msumange, D. A., Yazıcı, E. Y., Celep, O., & Deveci, H. (2022). A Comparison Of Ion-Exchange Resins And Activated Carbon In Recovering Gold From Cyanide Leach Solutions With Low Levels Of Copper. Bulletin of the Mineral Research and Exploration, 168, 35-41. https://doi.org/10.19111/bulletinofmre.955403

Picture of Global Mineralium Corporindo

Global Mineralium Corporindo