Analisa Kandungan Emas Menggunakan Aquaregia
Emas adalah logam yang sangat stabil — tidak bisa larut oleh asam biasa seperti HCl atau HNO₃ sendirian. Tapi jika keduanya dicampur dengan rasio HCl : HNO₃ = 3:1, terbentuklah aqua regia — larutan yang sangat reaktif dan mampu melarutkan emas.
Rahasianya ada pada dua zat aktif yang terbentuk saat pencampuran, yaitu Cl₂ (klorin) dan NOCl (nitrosil klorida). Keduanya bekerja bersamaan: satu mengoksidasi emas, satunya lagi mengikatnya menjadi kompleks terlarut [AuCl₄]⁻.
Metode ini dipakai untuk menganalisis kadar emas dalam bijih tambang, konsentrat, limbah metalurgi, dan paduan logam — bidang yang dikenal sebagai kimia analitik.
Secara kimia, mekanisme pelarutan emas dalam aqua regia diawali dengan reaksi antara HNO₃ dan HCl yang menghasilkan agen pengoksidasi kuat. Reaksi tersebut dapat dituliskan sebagai HNO₃ + 3HCl → NOCl + Cl₂ + 2H₂O, di mana gas klorin dan nitrosil klorida yang terbentuk bertindak sebagai oksidator. Emas yang semula berada dalam keadaan logam netral (Au⁰) kemudian dioksidasi menjadi ion Au³⁺ oleh spesies oksidator tersebut. Ion Au³⁺ yang
terbentuk tidak stabil dalam larutan biasa, tetapi akan segera berikatan dengan ion klorida (Cl⁻) dari HCl membentuk kompleks stabil berupa tetrachloroaurate, yaitu AuCl₄⁻. Secara keseluruhan, reaksi pelarutan emas dapat dituliskan sebagai Au + HNO₃ + 4HCl → HAuCl₄ + NO + 2H₂O, yang menunjukkan bahwa emas berhasil ditransformasikan ke dalam bentuk larut yang dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan teknik instrumental seperti AAS atau ICP-OES.
Proses destruksi diawali dengan preparasi sampel yang meliputi pengeringan, penghalusan, dan homogenisasi untuk memastikan representativitas sampel. Sejumlah sampel yang telah ditimbang kemudian ditambahkan campuran aqua regia dan dipanaskan pada suhu tertentu hingga reaksi berlangsung sempurna. Selama proses pemanasan, akan terbentuk asap berwarna coklat yang merupakan nitrogen dioksida (NO₂), yang menandakan berlangsungnya reaksi oksidasi. Setelah reaksi selesai, tahap penting berikutnya adalah penghilangan sisa asam nitrat melalui proses evaporasi mendekati kering dan penambahan kembali asam klorida. Tahap ini sangat krusial karena keberadaan HNO₃ yang tersisa dapat mengganggu kestabilan analisis, terutama pada instrumen berbasis plasma seperti ICP-OES, serta dapat mempengaruhi pembentukan kompleks emas dalam larutan.

Larutan hasil destruksi kemudian disaring untuk memisahkan residu yang tidak larut, seperti silika atau mineral refraktori lainnya, sebelum diencerkan ke volume tertentu. Filtrat yang dihasilkan mengandung emas dalam bentuk kompleks AuCl₄⁻ yang stabil dalam media asam klorida, sehingga siap untuk dianalisis menggunakan berbagai teknik instrumental seperti AAS, ICP-OES, maupun ICP-MS. Pemilihan teknik analisis biasanya bergantung pada kebutuhan sensitivitas, tingkat konsentrasi emas, serta kompleksitas matriks sampel. ICP-OES, misalnya, banyak digunakan karena kemampuannya menganalisis multi-elemen secara simultan dan toleransinya terhadap matriks yang relatif lebih baik dibandingkan teknik lainnya.
Secara keseluruhan, destruksi menggunakan aqua regia merupakan metode yang efektif dan diterapkan untuk penentuan emas dalam berbagai jenis sampel, terutama yang mengandung emas bebas atau mudah larut. Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada kontrol kondisi reaksi, penghilangan komponen pengganggu, serta penerapan prosedur kualitas yang baik.
kamu bingung dan butuh konsultasi lebih lanjut mengenai Analisa Kandungan Emas Menggunakan Aquaregia hubungi kami sekarang
WhatsApp 0821-3583-3683
REFERENSI
ISO. (1995). ISO 11466: Soil quality—Extraction of trace elements soluble in aqua regia. Geneva, Switzerland: ISO.
Paul A Liberatore, Determination Of Major Geological Samples By ICP-AES, ICP-12, 1993, Varian Australia Pty.
Monika I. Kisser, Digestion Of Solid Matrices, Part 1: Digestion With Aqua Regia – Report Of Evaluation Study. NUA – Umweltanalytik GmbH, Austria.




