Memahami TSS dan TDS dalam Pengujian Kualitas Air Sungai
Dalam pengujian kualitas air permukaan seperti sungai, parameter Total Suspended Solids (TSS) dan Total Dissolved Solids (TDS) sering dianggap sebagai parameter dasar. Namun, di balik kesederhanaannya, kedua parameter ini memiliki peran penting dalam menggambarkan kondisi lingkungan perairan serta dampaknya terhadap ekosistem dan aktivitas manusia.
Perbedaan TSS dan TDS
Secara prinsip, TSS dan TDS dibedakan berdasarkan ukuran dan bentuk material yang terdapat dalam air:
- TSS (Total Suspended Solids)
Merupakan padatan yang tidak larut dan melayang di dalam air, seperti lumpur, pasir halus, bahan organik, dan partikel koloid. Partikel ini dapat menyebabkan air menjadi keruh.
- TDS (Total Dissolved Solids)
Merupakan zat yang terlarut sempurna dalam air, seperti garam mineral (Na⁺, Ca²⁺, Mg²⁺), logam terlarut, serta senyawa organik terlarut.
Secara sederhana:
- TSS → partikel terlihat / menyebabkan kekeruhan
- TDS → zat terlarut / mempengaruhi rasa, konduktivitas, dan kimia air
Metode Pengujian: Pendekatan Gravimetri
Baik TSS maupun TDS umumnya dianalisis menggunakan metode gravimetri, yaitu dengan prinsip penimbangan massa residu.
Pengujian TSS
- Sampel air disaring menggunakan kertas saring (biasanya pori ±0,45 µm)
- Residu yang tertahan dikeringkan pada suhu ±103–105°C
- Selisih massa sebelum dan sesudah filtrasi dihitung sebagai TSS (mg/L)
Pengujian TDS
- Filtrat hasil penyaringan digunakan
- Sampel diuapkan dalam cawan
- Residu dikeringkan pada suhu ±180°C
- Selisih massa menunjukkan TDS (mg/L)
Meskipun metode ini relatif sederhana, pengujian TSS dan TDS sangat sensitif terhadap:
- Kontaminasi
- Kondisi pengeringan
- Kelembaban
- Ketelitian penimbangan
Sehingga diperlukan pengendalian mutu yang ketat untuk memastikan hasil yang akurat.
Dampak Lingkungan dari TSS dan TDS
- Dampak TSS
- Mengurangi penetrasi cahaya → menghambat fotosintesis fitoplankton
- Menyumbat insang ikan → mengganggu respirasi biota air
- Mengendap di dasar sungai → merusak habitat bentik
- Dampak TDS
- Meningkatkan salinitas air
- Mengubah komposisi kimia perairan
- Berpotensi toksik jika mengandung logam berat atau senyawa berbahaya
TDS yang tinggi juga meningkatkan konduktivitas listrik air, yang menjadi indikator penting dalam pemantauan kualitas air secara cepat.
Salah satu contoh nyata adalah kondisi sungai di Indonesia seperti Sungai Citarum, yang pernah dikenal sebagai salah satu sungai dengan tingkat pencemaran tinggi akibat limbah industri, domestik, dan pertanian.
Pencemaran tersebut menyebabkan:
- Peningkatan TSS akibat sedimen, sampah, dan lumpur
- Peningkatan TDS akibat limbah kimia dan zat terlarut
Dampaknya tidak hanya pada ekosistem, tetapi juga kesehatan masyarakat yang menggunakan air sungai tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pada studi pengolahan air limbah, parameter TSS sering ditemukan melampaui batas baku mutu sehingga harus diturunkan sebelum air dibuang ke badan air permukaan.
Baku Mutu TSS dan TDS
Di Indonesia, baku mutu air permukaan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Baku Mutu TSS
| Kelas Air | Batas Maksimum |
| Kelas I & II | 50 mg/L |
| Kelas III & IV | 400 mg/L |
TSS menjadi parameter penting karena berkaitan langsung dengan kondisi fisik air.
TDS dalam Regulasi
TDS tidak selalu tercantum secara langsung dalam baku mutu air sungai, namun digunakan sebagai parameter pendukung yang berkaitan dengan:
- Konduktivitas
- Salinitas
- Kandungan ion
Kesimpulan
Meskipun terlihat sederhana, TSS dan TDS merupakan parameter fundamental dalam pengujian kualitas air permukaan. Keduanya tidak hanya mencerminkan kondisi fisik dan kimia air, tetapi juga menjadi indikator penting dalam menilai dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Pemantauan rutin terhadap parameter ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas air sungai, melindungi ekosistem, serta memastikan ketersediaan air yang aman bagi kehidupan.
Ujikan kandungan air kamu di PT Global Mineralium Corporindo!




