Skandium, sebuah elemen tanah jarang, seringkali luput dari perhatian publik, namun perannya dalam membentuk dunia modern kita tak terbantahkan. Elemen ini bukan sekadar komoditas; ia adalah sumber daya strategis yang tak tergantikan, mendasari kemajuan di berbagai sektor kunci. Dari material energi baru yang mendorong inovasi hijau hingga teknologi informasi mutakhir yang menghubungkan kita, dari kedirgantaraan yang membawa manusia melampaui batas bumi hingga pertahanan dan militer yang menjaga keamanan, paduan aluminium dan magnesium berkekuatan tinggi dan berbobot ringan, sel bahan bakar oksida padat (SOFC), serta aplikasi pencahayaan, dan laser keramik. Area penggunaan skandium yang pertama dan tersebar luas adalah pada paduan aluminium sebagai elemen paduan. Penambahan skandium dalam jumlah kecil pada aluminium (0,1–0,8% berat) secara drastis meningkatkan karakteristik mekanik dan fisik paduan tersebut. Hal ini memberikan kekuatan tinggi, bobot rendah, karakteristik pengerasan presipitasi yang unik, dan stabilitas termal yang tinggi pada bagian aluminium yang dipadukan, dan paduan ini umumnya digunakan dalam komponen dirgantara, aplikasi militer, peralatan olahraga kinerja tinggi, dan beberapa komponen elektronik (Cao et al., 2024); (Ferizoglu, Kaya and Topkaya, 2018). Meskipun krusial, menemukan deposit Skandium dengan kandungan tinggi adalah tantangan tersendiri. Elemen ini cenderung menjadi “pendamping” bagi bijih lain, seperti bijih laterit yang kaya bauksit, limonite dan saprolite, bijih magnetit vanadium-titanium yang kuat, atau bijih tanah jarang lainnya. Akibatnya, dalam proses ekstraksi unsur-unsur utama dari bijih-bijih ini, Skandium seringkali terbuang, berakhir di air limbah dan terak yang dihasilkan. Namun, di sinilah letak inovasi dan peluang. Alih-alih mencari deposit primer yang langka, dunia kini beralih ke sumber daya sekunder sebagai tambang emas baru untuk Skandium. Bahan-bahan yang sebelumnya dianggap limbah, kini menjadi fokus utama untuk ekstraksi. Asam buangan dari produksi titanium dioksida, lumpur merah yang merupakan sisa pengolahan bauksit, terak tungsten, terak bauksit, terak tanah jarang, bahkan abu terbang dari pembangkit listrik, semuanya adalah “harta karun” yang berpotensi menghasilkan Skandium (Cao et al., 2024).
Setelah mengidentifikasi Skandium di berbagai sumber daya sekunder, langkah berikutnya adalah memulihkannya. Ini adalah proses yang membutuhkan kecanggihan dan inovasi, mengubah apa yang dulunya dianggap limbah menjadi elemen yang sangat berharga. Secara umum, Skandium dalam sumber daya sekunder pertama-tama diekstraksi ke fase cair. Dua metode utama yang digunakan untuk mencapai ini adalah pelindian asam atau pemanggangan asam sulfat yang diikuti dengan pelindian air. Proses ini dirancang untuk melarutkan Skandium dari matriks bahan aslinya, membawanya ke dalam bentuk larutan yang lebih mudah diolah (Cao et al., 2024).

Pramudhita et al. dalam studinya, membahas ekstraksi skandium dari bijih limonit Halmahera melalui pelindian asam bertekanan tinggi (HPAL) dalam larutan asam sulfat. Skandium diperoleh pada dosis asam sulfat 300 kg/ton bijih kering, waktu pelindian 4 jam, suhu 240°C, dan fraksi ukuran bijih -100+150 mesh (89-149 μm) dengan ekstraksi Sc sebesar 91,35%. Chen et al. (2025) melakukan ekstraksi selektif skandium dari limbah nikel laterit melalui hidrometalurgi asam sullfat berteknan. Sc yang terekstraksi berada dalam kisaran 93,00–97,10%.
Salah satu diagram alir proses Pemulihan (recovery) Scandium (Sc) dari bijih nikel-kobalt laterit

Fig. 1 Mixed hydroxide precipitation (MHP) circuit (Ferizoglu, Kaya and Topkaya, 2018)
DAFTAR PUSTAKA
Cao, W. et al. (2024) ‘Efficient Extraction and Separation of Scandium from Scandium-Bearing Solid Waste and Acid by Syn
ergistically’.
Chen, Y. (2025) ‘RSC Advances Selective extraction process of scandium from nickel laterite waste through hydrometallurgy’, RSC Advances, 15, pp. 2250–2259. Available at: https://doi.org/10.1039/D4RA07520J.
Ferizoglu, E., Kaya, Ş. and Topkaya, Y.A. (2018) ‘Solvent extraction behaviour of scandium from lateritic nickel-cobalt ores using different organic reagents’, Physicochemical Problems of Mineral Processing, 54(2), pp. 538–545. Available at: https://doi.org/10.5277/ppmp1855.
Pramudhita, R.D. and Mubarok, M.Z. (no date) ‘Extraction of Scandium from Halmahera Limonite Ore By High Pressure Acid Leaching ( HPAL ) in Sulfuric Acid Solution’, pp. 1–8.